Jalan insan kamil: Sufisme

Minggu, 23 Juni 2019

Sufisme


kisah.....Sufistik ....



ÈNTUB E DUNYO Bin SÈNGATNYA DUNIA........

Di kisahkan dlm suatu perjalanan yg berbeda tujuhan tapi satu jalan, ada bapak-bapak yang usianya kisaran usia pensiunan PNS dan Pensiunan TNI.

Mereka berdua tdk saling mengenal walaupun selalu beriring iringan dalam mengayuh sepeda onthelnya utk bersilaturrohim ke sanak saudaranya juga teman2nya sambil berolaraga dg mengayuh sepeda ontel.

Kedua bapak2 ini sebetulnya tidak dalam satu tujuhan tetapi kebetulan jalan yg di lalui sama. Melalui jln kecil di pinggiran kota yg diiringi dg angin semilir dan langit yg gelap karena kebetulan wkt itu musim hujan. Tiba-tiba langit menurunkan air dg tiba2 alias hujan, kedua bpk ini mengayuh sepedah sambil tengok kiri kanan barang kali ada tempat utk berteduh, maklum.... walaupun jln pinggiran kota rumah penduduk pinggiran kota banyak yg dipagar besi dan tertutup.

Tiba2 bpk2 yg mengayuh sepedanya dg cepat dan posisi di depan menemukan pekarangan yg tdk berpagar halamanya luas teras rumahnya juga lumayan lebar awalupun ukuran 3 × 8 meter. Halaman rumah yg tidak berpagar sangat dingin karena halaman rumah ini sama pemiliknya di tanami pohon mangga, Sirsat, durian, pepaya dan pisang.

Akhir bapak2 ini berteduh di teras rumah tsb, terasnya agak begitu kotor ternyata rumah ini kosong tdk berpenghuni. Kedua bapak yg sama2 pensiunan aparatur pemerintahan ini akhirnya saling kenalan saling ngobrol dan sama2 mengluar rokok utk di hisap sambil menunggu hujanya reda.

Begitu mereka berdua mengluarkan rokok eeee.....sama rokok ST nya, ha..ha..ha.. dari rokok yg sama itulah mereka berdua ngobrolnya tambah gayeng, asyik dg di iringi musik dari jatuhnya air hujan kegenting tempat berteduhnya. Mereka berdua saling bercerita awal2 mereka masuk ajaran yg sama dan juga bercerita tentang klg, anak2 dan cucunya juga bangunan2 utk ibadah di wilayahnya dan juga bercerita bagaimana jama'ahnya di wilayah masing2. Pokok nya mereka berdua sangat gayèng, enjoy, satu irama dlm bercerita kompaknya bapak2 berdua ini kayak terkabulnya sebuah do'a *Yadullahi 'alal jamaa'ah,* ha...ha...ha...sip dech pokoknya.




Sambil ngobrol berdua yg tadinya kelihatan gayeng kompak kayak terkabulnya do'a Yadullahi 'alal jamaa'ah tiba2 dia terdengar ada sesuatu yg jatuh... kedua bpk2 ini matanya terbelalak ke arah suarah sesuatu yg jatuh tadi, eee....ternyata durian besar yg jatuh...nach ketika mata bpk2 berdua ini tertuju pada durian yg jatuh mereka berdua yg tadinya gayeng kompak tiba2 berlari ke arah durian yg jatuh dan sambil saling dorong diantara mereka berdua utk mendapatkan durian yg jatuh tadi, sampai2 karena dorongan tenaga satu dg lainya saling kuat utk menjauhkan dari buah durian sampai ada yg terjengkang bin kejlungup ketika mendekati durian maka ada salah satu dari meraka berdua yg jatuh, padahal tadinya sebelum ada durian jatuh bpk2 berdua ini rukuuuun kompakkkk saling bercerita tapi....ketika ada durian jatuh eeee....
kekompakan mereka berdua jadi hilang dan jadi saling menjatuhkan utk mendapatkan durian yg jatuh tadi.

Dulur2 begitulah sengat dunia atau èntub e ndonyo, ketika kita bercerita tentang *a i u* kita enjoy2 saja tapi ketika ketika kita sdh berbicara tentang duniawi alias dunyo maka baru ada saling menjatuhkan, saling melemahkan dan sdh tdk menganggap lagi sebuah kekompakan diantara kita itu adalah sesuatu yg indah dan damai.

Semoga kita dan warga j i k (jalan insan Kamil)  ini terlepas dari sengat dunia atau èntub e dunyo.

Lha td salah satu aja yg ambil durian dg jalan santai kemudian hasilnya dimakan berdua kan enak, ha..ha..ha..

Semoga kisah yg sangat inspiratif ini bermanfaat.

Salam waras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar